Home / Berita / AROGANSI SEKJEN IPABI

AROGANSI SEKJEN IPABI

“Maaf ya Pak Edi, lama-lama kok postingannya kurang pantas. Istirahat dulu Pak. Kita coba belajar saling menghargai,” begitulah postingan terakhir dari admin grup WhatsApp, yang sekaligus sekjen ipabi, sebelum meremoved anggotanya dari grup karena postingan yang tidak disukai.
Padahal belum tentu, yang tidak disukai itu otomatis semua anggota grup juga tidak suka. Artinya, kata “kurang pantas” yang disampaikan dengan santun dan dijadikan alasan meremoved itu sangat debatable sesuai daya pikirnya.
Inilah sikap subjektif yang dimainkan oleh sang sekjen yang sok bersih, sok suci, sok moralis, dan sok bijak, sehingga menampik postingan agak nakal yang mengabarkan realitas. Nama grupnya menggunakan kata aspirasi, tapi tidak aspiratif. Lho kok ?.
Padahal, sebagai manusia, pastilah beliau juga mempunyai sisi agak gelap, tidak mungkin seputih teori tabularasa. Pastilah temannya Kang Hikmad ini pernah berperilaku memaksakan kehendak pribadi dengan mengorbankan kepentingan organisasi. Demi ambisi mencoba menyodorkan konsep pribadinya dengan mengatasnamakan anggotanya
Begitulah gaya seorang ibu sekjen memperlakukan anggotanya yang dianggap nakal. Mungkin, kelakuannya itu sebagai sebuah akumulasi kejengkelan pribadi yang dibawa ke ranah organisasi. Sehingga dirinya, dengan jabatannya, merasa berhak menertibkan anggotanya dengan cara meremoved anggotanya atas nama organisasi.
Atau mungkin, ini jangan-jangan merupakan ‘pesan’ yang ingin disampaikan agar seluruh anggota takut dan tidak berani bertindak semaunya dengan postingan-postingan nakal. (konon, dalam bahasa paud, dilarang menyebut anak nakal, tapi menggunakan istilah anak yang kreatif).
Sebuah tindakan represif untuk menjinakkan anggotanya yang bertepatan dengan upaya densus 88 membunuh teroris yang melakukan aksi amaliyah di seputaran Kota Surabaya, hari minggu (13/5).
Sungguh, tindakan yang ceroboh dan tidak bijaksana dari seorang sekjen dalam menertibkan anggotanya. Hanya gegara postingan yang tidak disukai, langsung ‘main hakim’ sendiri, tanpa menegur terlebih dulu dengan surat peringatan yang bertahab.
Sebuah tindakan otoriter, sok kuasa, dan tampaknya (maaf) sekjen gila hormad, ingin ditakuti dan diikuti segala saran, usul, pendapat dan pintanya. Ya, dalam konsep otoritarianisme, penganutnya akan berpegang pada kekuasaan sebagai acuan, Ia akan menggunakan wewenang sebagai dasar berpikir saat berhadapan dengan orang lain dan menanggapi masalahnya.
Mbah gugel bilang bahwa paham otoriter, itu merupakan bentuk pemerintahan yang bercirikan penekanan kekuasaan hanya pada negara atau pribadi tertentu, tanpa melihat derajat kebebasan individu.
Jangan-jangan sikap yang ‘mendadak tegas’ dari wanita Jogjakarta ini sebagai upaya ‘pengalihan isue’ untuk menutupi kekurang berhasilannya menjalankan amanat musyawarah dan memobilisasi anggotanya untuk berkontribusi menggerakkan rada organisasi ipabi yang sampai saat ini dibiarkan stagnan. Sebuah keadaan yang sengaja didiamkan, yang penting tetap nyaman bagi pengurusnya.
Apalagi, terbukti programnya tidak pernah transparan. Nama pengurus dengan job desk nya pun tidak dipaparkan, apalagi dilaporkan perkembangannya seperti organisasi pada umumnya.
Jika dugaan nakal di atas benar adanya, ya wajar jika organisasi ini hanya formalitas saja. gagal membina anggotanya, dan membiarkan pengurus daerahnya liar beraksi untuk kemudian mati. Sementara pengurusnya terus bisa menikmati zona nyaman dengan mengatasnamakan anggota.
Sungguh memprihatinkan, tapi begitulah adanya. Semoga kelakuan sekjen meremoved anggotanya tidak dijuruskan ke arah isue SARA, mengingat keduanya ada berbeda, seperti isue yang akhir-akhir ini sedang terjadi di berbagai daerah di Indonesia Salam Removed, Salam Literasi, tetap beraksi untuk menginspirasi. [eBas/rebo legi]Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *