Home / Berita / Catatan Kecil Di Sabtu Pon Bersama Gunarso

Catatan Kecil Di Sabtu Pon Bersama Gunarso

 

SRPB.WEB.ID-SIDOARJO, Gak menyangka jika hari sabtu pon, tanggal 18 Januari 2020 Arisan ilmu nol rupiah merupakan penyelenggaraan yang ke-30. Sungguh tak terduga. SRPB JATIM bisa menyelenggarakan acara rutinan setiap bulan secara istiqomah. Semoga materi-materi yang disajikan dalam gelaran Arisan Ilmu bisa menginspirasi pesertanya untuk berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat dalam kerja-kerja kemanusiaan.

Apalagi, dalam acara rutinan ini juga disisipi materi Pemberdayaan perekonomian pasca bencana. sungguh materi yang bermanfaat bagi relawan, disamping aktif dalam kegiatan menolong orang lain yang dilanda bencana, juga bisa menolong dirinya sendiri dan keluarganya melalui kegiatan ekonomi produktif. Alangkah tidak eloknya jika relawan yang biasa melakukan evakuasi, ternyata harus dievakuasi karena ketidakberdayaannya secara ekonomi.

Dalam Arisan ilmu yang digelar di gedung Siaga BPBD Provinsi Jawa timur, materi yang dibahas cukup menarik dan sangat sulit dilakukan oleh relawan. Materi itu bernama jitupasna (pengkajian kebutuhan pasca bencana). Narasumbernya pun tidak sembarangan. Gunarso, Kasi rekonstrusi, dibawah bidang Rehabilitasi dan rekonstruksi. “Apa beda kerusakan dan kerugian,?” Kata Gunarso mengawali pemaparannya. Karena ini merupakan materi baru, maka semua kompak diam saling tolah toleh. Pak Gun, begitu panggilan akrabnya, mengatakan bahwa dalam jitupasna, yang dimaksud Kerusakan adalah, Perubahan bentuk pada asset fisik dan infrastruktur milik pemerintah, masyarakat, keluarga dan badan usaha sehingga terganggu fungsinya secara parsial atau total sebagai akibat langsung pada suatu bencana. Sementara, Kerugian adalah Meningkatnya biaya kesempatan atau hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan ekonomi karenakerusakan aset milik pemerintah, masyarakat, keluarga dan badan usaha sebagai akibat tidak langsung dari suatu bencana. Acaranya sangat menarik. Peserta dengan bebas bertanya dan Pak Kasie rekonstruksi dengan sabar menjelaskan.

Acara berlangsung santai ditemani aneka makanan dan minuman. Termasuk wedang kemaruk. Acara semakin menarik ketika diadakan kuis berhadiah tumbler. Hal ini dalam rangka kampanye mengurangi sampah plastik (sedotan, botol dan gelas plastik). Makanya disetiap pengumuman kegiatan Arisan Ilmu selalu saja panitianya menghimbau agar peserta membawa tumbler sendiri. Semua peserta maklum karena keterbatasan waktu sehingga pembahasannya kurang tuntas. Untuk itulah, Ada sedikit harap dari peserta, agar Pak Gun, begitu panggilan akrapnya, berkenan untuk mengadakan diklat jitupasna untuk relawan, dalam rangka memperdalam penjelasan yang disampaikan dalam Arisan ilmu kali ini.

Selesai acara rutinan, beberapa personil bergeser ke Omah Ngarep Sawah di desa Sumorame, Sidoarjo. Rumahnya Dian Harmuningsih, Koordinator SRPB JATIM (yang konon diharapkan berkenan melanjutkan kepemimpinannya untuk periode ke dua) Ngobrol ngalor ngidul sambil menghabiskan sisa jajanan dan nasi kotakan yang tidak termakan karena banyak peserta yang asik ngobrol dengan teman baru sehingga lupa mengambil jatah makan. Dalam obrolan tanpa moderator itu banyak rencana yang muncul. Seperti rencana membentuk panitia kongres, rencana jambore relawan se jawa timur, rencana dolan ke Sentul, Bogor, pengadaan merchandise dan kartu tanda anggota, serta pembuatan “dummy” direktori relawan. Semua dibahas dan diperdebatkan sambil ngemil dan nyruput kopi. Sementara si Ocha tangannya terus menari di atas bukunya mencatat segala hal yang dibicarakan sambil sesekali batuk dan sentrap-sentrup mengendalikan ingus dihidungnya. Ya, si Ocha sedang kurang enak badan.

Hujan malam tetap setia membasahi bumi, peserta jagongan yang kebetulan berkaos warna hitam semua itu tetap antusias bertukar gagasan sambil guyon, diselingi cerita pengalaman hidup dimasa lalu tanpa ada tendensi tertentu. Semua mengalir begitu saja, seperti mulut yang tiada lelah ngemil secuil demi secuil. Namun, sekuat-kuatnya hasrat untuk tetap jagongan, ternyata takdir berkehendak lain. Rombongan Cak Yo harus segera bergeser ke Banyuwangi, pulang ke haribaan keluarga masing-masing. Begitu juga yang lain. Sementara yang enggan pulang karena takut kehujanan di jalan, langsung ndlosor di ruang tamu Omah Ngarep Sawah membangun mimpinya sendiri-sendiri tentang SRPB yang semakin maju dan bermanfaat bagi relawan. [eB]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *