Home / Berita / Catatan Menjelang Kongres II SRPB Jawa Timur 2020

Catatan Menjelang Kongres II SRPB Jawa Timur 2020

CATATAN MENJELANG KONGRES II SRPB JAWA TIMUR 2020

SRPB.WEB.ID – (15/1),Konon, membuat resolusi sudah menjadi gaya hidup kebanyakan orang dalam menyambut tahun baru. Termasuk keberadaan SRPB JATIM Sebagai tempat berkumpulnya berbagai organisasi relawan untuk silaturahmi berbagi informasi, tukar pengalaman terkait dengan kesukarelawanan dan kebencanaan, serta menjadi media peningkatan kapasitas relawan penanggulangan bencana, sebagai bekal membangun aksi kemanusiaan, sesuai amanat Kongres I tahun 2017. Beberapa capaian kinerja yang cukup membanggakan, diantaranya SRPB JATIM dilibatkan dalam rapat, pertemuan resmi dan kegiatan yang diadakan oleh BPBD. Seperti sebagai peserta pertemuan Dharma Relawan Adhirajasa di Bedugul, Bali. Juga kegiatan Ekspedisi Destana Tsunami, dan Jambore Relawan di Bangka Belitung, serta beberapa kegiatan SRPB JATIM yang difasilitasi oleh BPBD Provinsi Jawa Timur.

Kita pahami bersama membangun sebuah sistem tidaklah semudah membalik telapak tangan. Perlu proses panjang yang menguji kesabaran, kecerdasan dan kekuatan bertahan. Sampai menjelang kongres ke II tahun 2020 yang akan memilih pengurus baru, masalah ini masih terus berbenah, dan terus berproses.

Sungguh, jika koordinatornya tidak memiliki sikap judes, teges, dan cerewet dalam berkegiatan, maka semuanya akan ambyar, layu sebelum berkembang. Termasuk perlunya menyadari adanya potensi anomali yang mempengaruhi semangat berorganisasi. Namun, dengan komitmen yang dibangun penuh kesadaran, kesetiaan dan rasa kebersamaan, maka SRPB Jatim sampai hari ini tetap tangguh melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan bersama unsur pentahelix lainnya.

Untuk itulah ditahun 2020 perlu ditingkatkan lagi, baik itu koordinasinya, sinerginya maupun kebersamaannya. Termasuk segera mengadakan rapat kerja untuk menata ulang kepengurusan, menyusun panitia kongres sekaligus menyiapkan ubo rampenya agar tidak nabyak-nabyak saat pelaksanaannya. Pekerjaan besar dari pengurus baru hasil kongres 2020, telah menanti. Diantaranya adalah, mengupayakan agar kegiatan sosialisasi pengurangan risiko bencana terdukung oleh seluruh komunitas relawan penanggulangan bencana, sukur-sukur BPBD setempat tergerak untuk mengkondisikannya lewat regulasi.

Dengan demikian, gagasan BNPB dalam menumbuhkan budaya sadar bencana menuju masyarakat tangguh menghadapi bencana, benar-benar tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya bagi masyarakat yang berdomisili di daerah rawan bencana. Serta melakukan pendampingan kepada daerah yang telah menikmati program desa tangguh bencana dari BNPB maupun BPBD, sehingga terjamin kelestariannya sebagai desa tangguh bencana. Sesungguhnyalah, keberadaan relawan di lapangan sangat signifikan dalam membantu pemerintah saat tanggap darurat bencana. Namun nyatanya masih sering kurang dikoordinasikan sehingga mereka berjalan sendiri-sendiri, dan tidak jarang menimbulkan tumpang tindih informasi dan pemberian bantuan (dan perhatian). Untuk itulah, ke depan BPBD lebih berperan lagi melakukan pendataan dan pembinaan dalam bentuk sarasehan, lokalatih dan sejenisnya sebagai upaya menemukan kesepahaman sehingga akan memudahkan melakukan mobilisasi saat terjadi bencana. Termasuk mendiskusikan perlu tidaknya membumikan konsep desk relawan yang pernah dibahas di acara Dharma Relawan Adhirajasa.

Mungkin, inilah sebagian akar permasalahan yang perlu solusi tepat untuk mengatasinya. Semoga pasca kongres 2010 nanti SRPB Jatim mampu mewujudkan cita-cita membangun jejaring yang luas dengan semua elemen pentahelix untuk membangun ketangguhan masyarakaat Jawa timur menghadapi bencana hidrometeorologi. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eB]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *