Home / Berita / Catatan Pelatihan di Gedung Anestesi

Catatan Pelatihan di Gedung Anestesi

SRPB.WEB.ID- “Kegiatan ini sebagai upaya mengedukasi sistem kegawat daruratan agar masyarakat awam (khususnya relawan) yang melihat kecelakaan lalu lintas mengetahui apa yang boleh dilakukan, tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dilakukan dalam rangka mengurangi kesalahan melakukan pertolongan kepada korban,” Kata panitia Pelatihan Pre Hospital Trauma Care (PHTC) untuk Penolong Awam pada Korban Kecelakaan Lalu Lintas. Harapannya, seperti tertera dalam buku yang dibagikan oleh mbak panitia yang cantik, semakin banyak orang awam yang mengerti cara melakukan pertolongan, maka akan semakin banyak korban yang dapat ditolong (terselamatkan, red).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Anestesi, RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sabtu (19/10) ini diikuti oleh 30 personil dari berbagai wakil komunitas relawan kemanusiaan. Panitianya baik hati, menyiapkan kopi sasetan dan nasi kotakan yang menunya sangat memenuhi standar gizi. Adapun materi yang disajikan oleh para dokter anestesi meliputi Tata kelola lokasi kecelakaan, Evakuasi korban, Manajemen jalan nafas dan melepas helm, Mengendalikan perdarahan, Transportasi korban, dan disinggung juga tentang materi bantuan hidup dasar sebagai upaya penyelamatan dalam situasi darurat sebelum tim medis datang. Setelah teori dilanjutkan dengan praktek. Diantaranya cara membalut dengan metode balut tekan, praktek membuka jalan nafas model chin lift maupun jaw thrust.

Pelatihan gratisan yang diampu oleh komunitas tanggap gawat darurat (KTGD), yang dimotori oleh para dokter yang peduli terbentuknya masyarakat yang mandiri dan tanggap gawat darurat, merupakan upaya membekali relawan kemanusiaan dengan ilmu kegawat daruratan untuk menurunkan angka kematian kecacatan akibat keterlambatan dan salah melakukan pertolongan. Para dokter yang menjadi nara sumber, selalu mengingatkan, sebelum melakukan pertolongan, harus menggunakan alat proteksi tangan berupa sarung tangan atau tas kresek. Jangan menggunakan kain karena akan bocor (ngembes). Ya, siapa tahu korban mempunyai penyakit yang dikhawatirkan menular. Begitu juga hindari pemberian nafas buatan dari mulut ke mulutsaat menolong korban yang mendadak jatuh tidak sadar(biasanya disebabkan penyakit jantung). Sebaiknya lakukan saja pijat dengan kuat tulang dada bagian bawah sebanyak mungkin sampai bantuan datang. Sungguh, banyak hal baru tentang tata cara menangani korban kecelakaan lalu lintas. Ternyata, sebelum melakukan pertolongan haruslah melakukan pengamatan dulu terhadap korban, dan lingkungan sekitar. Kemudian, memastikan keamanan penolong dan segera minta bantuan kepada pihak terkait sambil menilai kegawatan korban. Tidak kalah pentingnya adalah mengamankan lokasi kejadian sambil memberi tanda agar kendaraan yg melintas mengurangi kecepatan dan mengupayakan tidak terjadi kemacetan. Selanjutnya tetap melakukan komunikasi kepada tim penolong. Tentunya sajian materi yang serba baru ini tidak serta merta langsung dikuasai oleh peserta. Sehingga perlu ada tindak lanjut. Baik itu melalui pelatihan maupun pertemuan-pertemuan yang dilakukan secara informal. Sambil ngopi bareng ngomongin masalah pertolongan pertama pada kasus kecelakaan lalu lintas.

Diakhir acara, setelah menerima sertifikat keikutsertaan sebagai peserta pelatihan, ada yang nilang bahwa pelatihan merupakan embrio lahirnya KTGD yang perlu dikembangkan melalui interaksi yang diagendakan dalam rangka membangun kesepahaman dan menambah anggota. Ini penting, agar tidak layu sebelum berkembang. Termasuk bermitra dengan sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana (SRPB) Jawa Timur. Salam Kemanusiaan.[eBas]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *