Home / Berita / DESK RELAWAN ALA LILIK KURNIAWAN

DESK RELAWAN ALA LILIK KURNIAWAN

Minggu, 21 Oktober 2018

DESK RELAWAN ALA LILIK KURNIAWAN

Saat
memaparkan konsep Desk Relawan, lilik Kurniawan, direktur Pemberdayaan
Masyarakat, BNPB, mengatakan bahwa jika terjadi bencana di suatu daerah
(Kabupaten/Kota), maka dalam waktu 1 X 24 jam , SRPB (beserta tim TRC BPBD
Provinsi), sudah harus bergerak mendatangi lokasi untuk berkoordinasi dengan
BPBD setempat melakukan kaji cepat dan mendirikan Tenda desk Relawan yang
posisinya berdekatan dengan posko Utama (jika situasi memang mengharuskan).

Apa yang
dikatakan pria murah senyum itu merupakan hal yang wow…..ruaaaar biasa banget,
jika bisa diwujudkan ke alam nyata. Ya, sebagai gagasan cerdas, tentunya
pernyataan yang dilontarkan pada acara ‘Sedekah
Ilmu’ di Joglo Kadiren (Joka), hari kamis (18/10), itu perlu mendapat acungan jempol. namun, sebelum dicoba
laksanakan tahun depan, hendaknya bisa menjawab beberapa pertanyaan dibawah
ini, yang jawabannya gampang gampang susah.

Seperti,
apakah di BPBD ada dana (bisa dan mau menganggarkan) yang siap cair setiap ada
bencana untuk mendukung gerakan tersebut di atas?. Apakah ada relawan (dan Tim
TRC BPBD) yang bersedia siap bergerak setiap waktu tanpa menunggu, manakala
tugas memanggil?.

Ingat,
relawan (dan Tim TRC BPBD) itu bukan tentara yang siap bergerak kapan saja,
kemana saja sesuai perintah atasan dalam sebuah sistem komando yang jelas, dan
tegas. Tentara memang terlatih untuk bergerak cepat tanpa menunggu surat dari
pejabat yang kadang terlambat karena sibuk rapat atau tidak berada di tempat.

Sementara
banyak kendala yang mempengaruhi relawan ketika akan turun ke lapangan. Baik
itu soal dana, keluarga, dan ijin dari tempatnya bekerja. Sedangkan Tim
TRC BPBD, biasanya baru akan berangkat
ketika surat tugas beserta pendukungnya
sudah ditangan. Tanpa itu bisa dianggap melanggar disiplin pegawai.

Belum
lagi masalah koordinasi antar OPD yang masih agak lemah karena masih kuatnya ego sektoral. disamping itu juga masih adanya kekurang mengertiannya
tentang manajemen bencana dan memaknai situasi tanggap darurat yang tertuang dalam
rencana penanggulangan bencana dan recana kontijensi.

dua
pertanyaan di atas itulah yang harus
dijawab oleh BNPB sebagi pemilik gagasan, dalam sebuah rapat bersama antara
relawan dan BPBD (yang melibatkan bidang PK, KL, dan RR). Dari situ diharapkan
lahir kesepahaman dan kesepakatan untuk melangkah bersama mencoba melaksanakan konsep
Desk Relawan, seperti yang dipresentasikan dengan apiknya di malam Jumat paing.
Sebuah malam dimana dalam budaya jawa dianggap malam yang sakral penuh magis.

Disisi
lain, gagasan Tenda Desk Relawan itu juga perlu didukung dengan berdirinya SRPB
(atau nama lain yang disepakati sebagai wadah berkumpulnya perwakilan
organisasi relawan untuk memudahkan koordinasi dengan BPBD) di tingkat
Kabupaten/Kota, yang ‘dibina’ oleh
BPBD setempat dalam hal peningkatan kapasitas. Ingat, desk relawan itu bukan
menandingi posko, tapi bagian dari posko.

Hal ini
untuk mempercepat pergerakan penanganan manakala ada bencana di daerahnya
sebelum bantuan dari luar berdatangan. Artinya, jika terjadi bencana di suatu
daerah, maka yang bergerak lebih dulu melakukan kaji cepat adalah TRC dan SRPB
setempat (memberdayakan potensi lokal). Mengingat mereka sudah dikenal
masyarakat dan ‘menguasi’ daerahnya.

Dari
hasil kaji cepat itulah kemudian dilaporkan ke SRPB dan pusdalop BPBD Provinsi
untuk dijadikan bahan pengambilan
kebijakan. Apa saja yang harus dilakukan oleh pemerintah, termasuk perlu
tidaknya mendirikan posko utama dan desk relawan dalam penanggulangan bencana
yang terjadi.

Semoga
pertanyaan di atas segera mendapat jawaban yang ‘menyejukkan’. Hal ini untuk menjawab temuan lapangan yang
dikemukakan oleh Lilik Kurniawan dalam paparannya. Diantaranya, keberadaan
relawan di lapangan belum semua terdaftar, relawan hadir secara pribadi atau
kelompok sesuai kebisaannya tanpa koordinasi lintas sektor, hubungan relawan
dengan posko belum lancar, dan masih ada relawan yang datang ke lokasi bencana tidak
membawa APD dan surat tugas dari induk organisasinya atau dari SRPB sebagai wadah dari perwakilan berbagai organisasi relawan/pekerja kemanusiaan. Salam tangguh, semoga menginspirasi.[eBas,minggu
wage 21/10]
Diposting oleh


Info Relawan

di

00.54



Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Original Article Relawan Penanggulangan Bencana Alam

About ahas

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *