Home / Berita / GERAKAN PEMASYARAKATAN MINAT BACA

GERAKAN PEMASYARAKATAN MINAT BACA

Upaya peningkatan literasi yang bisa berdampak pada peningkatan kesejahteraan sudah waktunya dimulai. Untuk itu materi yang dipilih untuk sosialisasi gerakan literasi harus bisa menginspirasi masyarakat agar bisa tumbuh kesadarannya untuk gemar membaca, menulis dan berhitung (calistung) demi peningkatan kualitas hidup dalam arti luas.
Dengan kata lain, gerakan literasi itu haruslah bisa ‘menggiring’ masyarakat berbuat nyata meningkatkan kemampuan calistungnya dengan mendatangi perpustakaan maupun taman bacaan masyarakat yang ada, untuk kemudian hasilnya bisa diduplikasikan ke komunitas lain. Dengan demikian gerakan literasi ini akan mempunyai efek domino yang bermanfaat bagi masyarakat. Dan itu tidak mudah.
Itulah sebagian gagasan yang muncul dalam seminar pemberdayaan kegemaran membaca sebagai salah satu pendukung kegiatan rapat koordinasi pengurus gerakan pemasyarakatan minat baca (GPMB) Jawa Timur, selasa (23/10).
Dalam rangka mensukseskan gerakan literasi, Musdiq Ali Suhudi, Kepala perpustakaan dan kearsipan Kota Surabaya mengatakan bahwa, keberadaan perpustakaan (TBM) diharapkan bisa menyebar ke berbagai wilayah di Surabaya agar tidak terkonsentrasi dalam satu lokasi. Sehingga upaya pemerataan minat baca benar-benar nyata.
Kusnendar, seorang pegiat TBM, mengatakan bahwa gerakan literasi in lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, dan online.
Sementara, suhendraawe dalam blognya, mensitir Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) yang menjabarkan komponen literasi informasi diantaranya,Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
Dengan demikian, disamping ada literasi yang terkait langsung dengan upaya peningkatan kemampuan calistung untuk mengurangi penyandang buta aksara, juga perlu dikembangkan literasi kesehatam, literasi kebencanaan, literasi sosial ekonomi, literasi budaya, dan literasi lainnya yang dapat menunjang peningkatan kesejahteraan para pelakunya.
Hal ini sejalan dengan, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).
Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Ini pun juga tidak mudah, perlu waktu untuk berproses.
Untuk itulah para pegiat literasi haruslah sering berdiskusi, ngobrol bareng untuk melahirkan strategi yang inovatif dalam upaya membumikan budaya baca kepada masyarakat luas, khususnya mereka yang masih terbelit dalam kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan. Mereka juga harus bisa merumuskan kegiatan yang diminati dan bermanfaat bagi “sasaran programnya”.
Misalnya, jika sasarannya remaja, maka kemasan literasinya haruslah gaul kekinian disesuaikan dengan jaman now. Jika pesertanya wanita, maka keterampilan kuliner, kesehatan wanita dan keluarga akan menarik, ketimbang disi dengan kegiatan membaca novel yang tebal. (sungguh, sebuah aktivitas yang menyebalkan bagi yang tidak terbiasa).
Dengan tema “Bersama membangun Budaya Literasi Untuk Kesejahteraan” diharapkan para pengurus GPMB se jawa timur dalam ‘menikmati’rakor bisa menghasilkan rumusan yang inovatif, dan kreatif sehingga akan menjadikan gerakan literasi benar benar membawa dampak positif meningkatkan kemampuan calistung, mengurangi penyandang buta aksara, dan masyarakat pun berdaya untuk turut aktif menjadi subjek pembangunan nasional, sekaligus menjadi masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Wallahu a’lam bishowab. Salam Literasi, terus menginspirasi. [eBas, Selasa 23/10]
Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *