Home / Berita / Jambore Relawan Nasional 2019, Antara Kenangan dan Tantangan

Jambore Relawan Nasional 2019, Antara Kenangan dan Tantangan

JAMBORE RELAWAN 2019, ANTARA KENANGAN DAN TANTANGAN

Perhelatan Jambore Relawan Nasional di Belitung telah usai. Semua kontingan telah kembali ke daerah masing-masing sambil membawa sejuta kenangan yang mungkin tak kan pernah terlupakan. Pastilah masing-masing individu memiliki kesan dan catatan sendiri yang berbeda dari seluruh rangkaian Jambore. Sehingga akan semakin indah bila didokumentasikan dalam sebuah tulisan. Mulai dari yang kecil. Bagaimana senangnya bisa foto bersama dengan para pejabat BPBD Provinsi Jawa Timur yang berkenan memfasilitasi relawan yang tergabung dalam SRPB JATIM untuk berpartisipasi. Bagaimana serunya tertawa bersama dengan mBak Pinky, Ning Lukis dan Mami Fanny. Nggaya bareng Pak Suban dan Pak Gatsu yang diabadikan dengan segala keceriaannya.

Wow… ini adalah pengalaman yang tidak semua relawan berkesempatan menikmati, dan belum tentu ada kesempatan lagi. Kini tinggal merasakan sisa capek sambil menikmati oleh-oleh khas Bangka Belitung, dan tentunya segera ‘move on’ kembali menikmati rutinitas harian. Paling tidak ke delapan personil yang diberi mandat mewakili relawan jawa timur segera membuat laporan seperti yang diharapkan oleh koordinator SRPB JATIM yang akan dijadikan bahan evaluasi untuk peningkatan kapasitas relawan ke depan. Apalagi, bersamaan dengan jambore relawan, ada Rapat Koordinasi Nasional Forum Pengurangan Risiko Bencana. Ada beberapa komitmen yang dihasilkan untuk diupayakan bisa ditindak lanjuti dalam sebuah gerakan. Diantaranya adalah, Memperkuat posisi dan peran Forum PRB sebagai mitra BPBD dan memfasilitasi anggota dalam mengelola risiko pada pra, saat, dan pasca bencana, Mengembangkan dan meningkatkkan kualitas kelembagaan platform/forum untuk pengurangan risiko bencana nasional dan daerah, mencakup struktur dan mekanisme representasi organisasi multi-parapihak.

Kemudian, Memperkuat fungsi Forum PRB sebagai wadah koordinasi multipihak dan fasilitasi dialog para pihak dalam menyusun strategi-strategi, menentukan prioritas dan langkah pengurangan risiko bencana di daerah dalam bentuk dokumen RPB dan RAD sebagai alat untuk dalam pengelolaan PRB di daerah. Ada lagi yang menarik untuk dicermati. Yaitu upaya mengembangkan dan meningkatkan berbagai program/kegiatan/aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat yang relevan dengan upaya penguatan masyarakat sipil, seperti penguatan komunikasi, informasi dan edukasi rawan bencana (tatap muka, media sosial, rambu evakuasi, dan papan informasi), serta Penyelenggaraan pelatihan kesiapsiagaan dan tanggap darurat berbasis masyarakat di daerah secara bertahap, berjenjang, dan berlanjut. Mungkinkah relawan dapat berperan serta dalam melaksanakan komitmen tersebut?. Kiranya, beberapa komitmen di atas sangat menarik dijadikan agenda SRPB JATIM. bisa dibahas melalui Arisan Ilmu, bisa dijadikan gerakan edukasi ke masyarakat, atau melalui tulisan di web SRPB yang bisa menginspirasi pembacanya.

Namun bisa juga mengadakan kegiatan yang rodok “ngilmiyah” berupa workshop, seminar atau diskusi terpumpun untuk membahas komitmen yang dihasilkan di Pangkal Pinang. Dimana hasilnya memuat rekomendasi ala relawan yang dijadikan bahan laporan ke BPBD/BNPB, Begitulah seharusnya, setelah kegiatan berakhir, tidak hanya terlena dengan kenangan terindah, namun juga berbenah diri menjadikan pengalaman di Babel sebagai media untuk menemukenali kegagalan dan keberhasilan untuk terus belajar meningkatkan kapasitas yang nantinya bisa mumpuni dalam upaya pengurangan risiko bencana dan kegiatan penanggulangan bencana. Salam tangguh, Salam kemanusiaan. [eBas]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *