Home / Berita / Mimpi Tentang Relawan di Era Milenial

Mimpi Tentang Relawan di Era Milenial

 

MIMPI TENTANG RELAWAN DI ERA MILENIAL

Relawan di era milenial dituntut untuk menguasai perkembangan dan memanfaatkan teknologi informasi yang dapat mendukung aktivitasnya dalam operasi penanggulangan bencana maupun upaya pengurangan risiko bencana. Disini, peningkatan kapasitas relawan menjadi lebih penting.

Ya, dewasa ini upaya pengembangan kapasitas merupakan bagian yang penting di dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk untuk meningkatkan kinerja organisasi. Menurut A9CBF:2001, yang diambil dari mBah Gugel, Peningkatan kapasitas dapat didefinisikan sebagai sebuah proses untuk meningkatkan kemampuan individu, organisasi, komunitas atau masyarakat untuk menganalisa lingkungannya; mengidentifikasi masalah-masalah, kebutuhan-kebutuhan, isu-isu dan peluang-peluang; memformulasi strategi-strategi untuk mengatasi masalah-masalah, isu-isu dan kebutuhan-kebutuhan tersebut, dan memanfaatkan peluaang yang relevan. merancang sebuah rencana aksi, serta mengumpulkan dan menggunakan secara efektif, dan atas dasar sumber daya yang berkesinambungan untuk mengimplementasikan, memonitor, dan mengevaluasi rencana aksi tersebut, serta memanfaatkan umpan balik sebagai pelajaran. Agar relawan dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kapasitas, SRPB Jawa Timur membuat kegiatan yang berusaha memfasilitasi upaya pengembangan wawasan dan pengetahuan dengan mengundang nara sumber yang berkompeten di bidangnya. Kegiatan itu dinamai Arisan Ilmu Nol Rupiah. Sebuah pembelajaran gratisan yang telah berhasil menginspirasi berbagai komunitas untuk saling peduli terhadap peningkatan kapasitas relawan, saling berbagi informasi dan tukar pengalaman. Dalam hal ini SRPB berusaha menyiapkan relawan yang mumpuni sebagai nara sumber dibidang mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta meningkatkan profesionalisme relawan melalui sertifikasi (uji kompetensi) sesuai standar yang dibuat LSP-PB.

Untuk bisa memunculkan kader-kader relawan milenial yang handal, tentunya Dian Harmuningsih selaku koordinator, beserta pengurus SRPB lainnya harus bisa mendorong anggotanya memahami Tentang Penyelenggaraan penanggulangan bencana, yang diartikan serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan, tanggap darurat dan rehabilitasi-rekonstruksi pasca bencana.

Ya, relawan milenial hendaknya juga mengerti tentang manajemen bencana yang didalamnya berbicara tentang mitigasi, kesiapsiagaan, ketangguhan, kapasitas, kerentanan, penyusunan rencana penanggulangan bencana, rencana kontijensi, rencana operasional, jitupasna, pendampingan korban bencana, serta memahami klasterisasi dan sejenisnya. Dengan kata lain, keberadaan SRPB itu lebih pada upaya melakukan edukasi kepada relawan agar dapat bergiat di tiga fase penanggulangan bencana. khususnya di fase pra bencana, seperti yang termaktub dalam tujuan perka nomor 17 tahun 2011, tentang pedoman relawan penanggulangan bencana, yaitu, a). Meningkatkan keterlibatan dan peran serta relawan dalam kegiatan penanggulangan bencana. b). Meningkatkan kapasitas relawan agar dapat bekerja dengan terkoordinasi, efektif dan efisien, dan c). Meningkatkan kinerja serta daya dan hasil guna kegiatan relawan.

Dalam kegiatannya, SRPB hendaknya lebih fokus membahas perka 17 tahun 2011, khususnya pada upaya penanganan Saat tidak terjadi bencana, yaitu dengan melakukan kegiatan Pengurangan Risiko Bencana antara lain melalui: 1) Penyelenggaraan pelatihan-pelatihan bersama masyarakat 2) Penyuluhan kepada masyarakat 3) Penyediaan informasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam rangka pengurangan risiko bencana 4) Peningkatan kewaspadaan masyarakat.

Pada situasi terdapat potensi bencana, relawan dapat berperan dalam kegiatan Kesiapsiagaan, antara lain melalui: 1) Pemantauan perkembangan ancaman dan kerentanan masyarakat 2) Penyuluhan, pelatihan, dan geladi tentang mekanisme tanggap darurat bencana 3) Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar 4) Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan pemulihan prasarana dan sarana 5) Penyiapan lokasi evakuasi, dan memberikan informasi peringatan dini, antara lain melalui pemasangan dan pengujian sistem peringatan dini di tingkat masyarakat agar mereka paham, dan ikut menjaga/memelihara alat peringataan dini yang harganya tidak murah.

Sementara untuk peningkatan keterampilan dibidang penanggulangan bencana, seperti, pelatihan dasar/lanjutan manajemen, pelatihan teknis kebencanaan, geladi dan simulasi bencana, diserahkan ke masing-masing organisasi untuk menggelar pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kapasitas dan klasternya.

Sungguh, jika SRPB bisa mengimbaskan pesan-pesan yang ada di dalam perka 17 tahun 2011, maka impian melahirkan relawan milenial yang handal dan mampu berkolaborasi dengan elemen pentahelix lainnya akan menjadi nyata. Tentu, semua itu tidak bisa lepas dari peran serta BPBD setempat agar kegiatan yang direncanakan tidak ambyar ditengah jalan. Salam tangguh, Salam Kemanusiaan. [eB]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *