Home / Berita / PENSIUN ITU MENYAKITKAN

PENSIUN ITU MENYAKITKAN

Sungguh judul tulisan ini sangat realistis sekali dijaman now. Jaman milenial yang mendewakan harta dan gengsi. Sungguh pensiun itu sangat menyakitkan bagi mereka yang biasa menjabat dan lemah imannya. Betapa tidak. Saat menjabat, sagala kebutuhannya sudah tercukupi oleh jabatannya. Semua kebutuhannya pun telah terfasilitasi oleh Negara. Termasuk keluarganya pun tercukupi oleh tunjangan jabatannya. Sehingga gajinya utuh tuh masuk kedalam rekeningnya tanpa pernah tersentuh.
Pasca pensiun dengan kekayaan yang melimpah hasil ‘tabungan jabatan’ nya itu seharusnya sudah bisa menghidupinya beserta keluarganya, jika mau hidup ‘sak madyo ora neko neko’. Dengan penuh iman berucap syukur bisa menyelesaikan tugas yang diemban selama bekerja tanpa cela.
Sayang, mantan pejabat saat menjelang pensiun, kebanyakan belum legowo menerima surat keputusan pensiun. Banyak pejabat yang mengalami post power syndrome. Inginnya tetap minta dilayani, minta tetap dihormati, masih suka nyuruh nyuruh, main perintah dan menikmati fasilitas dengan sedikit culas. Itulah kenyataannya, dan memang begitulah adanya. Semua bermuara pada kurangnya rasa bersyukur dengan apa yang harus terjadi pada dirinya. Itulah mereka yang lupa akan ‘kasunyataning urip’, takdir Illahi yang harus disandang oleh masing-masing pribadi.
Konon, kata teman yang pernah bertugas melayani pejabat, mengatakan bahwa menjadi pejabat itu enak. setiap ada kegiatan kantornya selalu mendapat ‘cipratan rejeki’ sesuai aturan yang berlaku maupun aturan yang dibuat sendiri untuk memperkaya diri dan kroni.
Tanpa minta pun pejabat itu sudah disediakan ‘dana taktis’ yang bisa digunakan sewaktu waktu. Apalagi pejabat yang serakah, pasti dengan susah payah akan mendapat perhatian dari bawahannya agar tidak marah, termasuk ketika sang pejabat minta di jatah rumah dan mobil mewah (mungkin saja to, namanya juga pejabat yang pandai memanfaatkan jabatannya untuk persiapan pensiun).
Konon jargonnya pejabat nakal itu mirip Buto Terong, tokoh raksasa di dunia pewayangan (baik wayang kulit, wayang orang maupun wayang golek), dimana, dalam setiap langkahnya selalu bilang, “bal gedibal bal, dudu gombal dudu bantal, dudu aspal yo dudu kadal, kabeh tak until”. Makanya, sebelum pensiun harus bekerja cerdas mencari peluang menyelingkuhi anggaran rutin dan proyek. Naudzubillahi min dzalik, semoga kelakuan yang demikian ini semakin sedikit penganutnya.
Ya, pensiun itu artinya seorang pegawai atau karyawan yang sudah tidak bekerja lagi karena usianya sudah lanjut dan harus diberhentikan dengan mendapatkan hak haknya, sesuai aturan yang berlaku. Siapapun orangnya pasti akan mengalami pensiun, seiring dengan bertambahnya usia yang semakin renta dan akrab dengan berbagai penyakit yang menyertai masa tuanya. Belum lagi mikir masalah dosa dan neraka akibat ulahnya yang banyak menyimpang dari aturan agama.
Agar tidak menyakitkan, ada baiknya setiap karyawan (apalagi pejabat), tentunya harus memikirkan rencana masa depan dikala memasuki masa pensiun, agar tidak kaget. Agar bisa menerima kenyataan dengan sabar dan ikhlas. Rela menyerahkan segala fasilitas yang biasa dinikmati, harus segera menanggalkan gaya hidup selama menjabat, dan legowo menjadi orang biasa yang tidak dilayani, tidak dihormati, bahkan tidak diperhatikan oleh bawahannya sendiri yang dulunya suka menjilat pantatnya.
Ya, jalan terbaik agar bisa menikmati pensiun dengan nyaman dan aman adalah ‘tidak nakal’ saat menjadi karyawan (pejabat). Andaipun pernah nakal ya segera bertobat, segera memperbaiki diri untuk siap melupakan fasilitas yang pernah diterima dan siap pula dilupakan oleh karyawan dan koleganya.
Sambil menjaga kesehatan diri yang semakin akrab dengan penyakit, ada baiknya berupaya memanfaatkan sisa hidup dengan berbagi ilmu kepada sesama, mengembangkan sikap saling peduli terhadap lingkungannya, agar keberadaannya dikenal oleh masyarakat sekitarnya.
Ini penting. Karena, biasanya, semasa aktif menjadi karyawan (apalagi pejabat), jarang sekali punya waktu ngerumpi dengan tetangga kanan kiri karena sibuk mencari posisi untuk berprestasi dan melobi membangun relasi mencari rejeki, sampai lupa kepada kewajiban sosialnya sebagai makhluk bermasyarakat.
Sukur-sukur diusia yang semakin senja itu, pensiunan mau mendekat kepada Tuhannya dengan semakin sering dolan ke tempat ibadah, banyak berdoa mohon ampunan-NYA, mengakui segala dosa dan khilafnya. Agar kelak, ketika wafat, tidak dilaknat oleh malaikat. Ingat di akerat tidak ada tomat dan donat, apalagi soto babat. Adanya cumak siksa yang berat bagi mereka yang hidupnya bejat.
Semoga pembaca dimana saja yang mempunyai waktu luang dan sempat membaca tulisan ala kadarnya ini, bisa memetik pelajaran yang tersirat agar nanti saat tiba masanya pensiun tidak menyakitkan karena sudah disiapkan sejak awal dan sadar bahwa pensiun itu bagian dari sunatullah. Nikmati sajalah, don’t worry be happy, ayo nyruput kopi……..[eBas/senin pahing 3/12]Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *