Home / Berita / PERILAKU SERAKAH PAMONG BELAJAR, SEBUAH RENUNGAN

PERILAKU SERAKAH PAMONG BELAJAR, SEBUAH RENUNGAN

Konon, manusia itu dikaruniai Tuhan serba lengkap, termasuk sifat serakah. Sebuah sifat yang sering menjadi rasan-rasan, menjadi cemooh berjamaah teman sekantor. Sementara pemilik sifat serakah itu tidak merasa bersalah karena memang sangat menikmati sifatnya, dan merasa kelakuannya benar secara hokum kepegawaian.
Menurut KBBI pengertian serakah ini adalah selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Sifat serakah ini jika diartikan secara umum adalah orang yang selalu merasa kekurangan padahal dalam kenyataannya dia sudah lebih dari cukup (berkelebihan). Orang yang seperti ini tidak akan pernah merasa puas. Manusia serakah juga selalu menginginkan agar dirinya mepunyai lebih banyak dari pada yang lain.
Seorang Pamong Belajar pun juga tidak bisa steril dari sifat ini. Biasanya, sifat serakah Pamong Belajar itu didasari oleh rasa superior, merasa terpandai dan terpenting daripada Pamong Belajar lainnya. Sehingga tega mengambil semua kesempatan pekerjaan tanpa mau berbagi dengan Pamong Belajar lainnya. Biasanya mereka ini berlindung atas nama kompetensi, kapasitas dan tugas Negara.
Jika keserakahan itu sudah ‘tertanam’ maka akan selalu mewarnai langkahnya. Semua tugas kantor selalu dipilih dan dipilah yang menguntungkan dirinya dan kroninya. Jiwa sosialnya mungkin hampir mati. Kalau pun ada, itu sekedar basa basi yang susah dimengerti. Karena semua berbasis kepentingan ekonomi.
Padahal, konon dalam sebuah materi ‘Fun Game’dikatakan bahwa membangun teamwork itu diperlukan komitmen yang kuat, kebersamaan, kejujuran, keterbukaan, kesetaraan dan saling peduli. Dari situlah akan muncul sinergi positif untuk maju bersama.
Hal di atas sejalan dengan materi mengembangkan karier, yang mengatakan bahwa, teamwork yang solid akan mampu memberikan hasil yang maksimal, tentu karena kerja keras tim yang didukung oleh superman-superman sebagai anggota tim sehingga bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran yang hebat, ide-ide yang super, bisa memberikan hasil yang maksimal dan luar biasa dalam superteam tersebut.
Namun, ketika keserakahan yang dibalut mumpungisme menikmati kesempatan ‘memperkaya’ diri tetap bersemayam di dada, maka, semua nilai-nilai yang diajarkan lewat ‘Fun Game’ hanyalah basa basi perkantoran untuk mempercepat daya serap anggaran program.
Karena, sepulang dari perhelatan ‘Fun Game’dapa dipastikan tidak akan ada perubahan perilaku seperti yang diharapkan oleh ketua pelaksana dalam sambuatannya serta kegiatan yang dikemas dengan penuh semangat dan berkeringat.
Semuanya akan kembali seperti sedia kala. selama seminggu pasca kegiatan suasana akan tampak bergembira saling tertawa, berbagi cerita dan saling berkomentar tentang foto dokumentasi yang diambil dari berbagai sudut pandang yang ada sesuai selera.
Padahal, pesan yang tersirat dalam program itu adalah, bahwa membangun teamwork itu untuk dicapai adalah target bersama, bukan individual. Keahlian masing-masing menjadi kekuatan tersendiri dalam teamwork yang akan mempercepat proses pencapaian target.
Untuk itulah dalam menu-menu ‘Fun Game’ disajikan cara mengendalikan ego dan emosi saat bersama agar pergesekan tidak berujung pada pemutusan kerjasama. Dengan pemahaman yang tinggi soal karakter individu dalam team, realisasi target tidak perlu waktu yang lama.
Namun, begitulah ketika keserakahan telah menghasilkan keuntungan bagi pribadi atau pun golongan, maka akan ada upaya untuk mempertahankan jangan sampai lepas dari tangan. Tentu dengan berbagai alasan yang dikemukakan, seolah olah merupakan kebenaran yang harus dibiarkan.
Sayangnya, sifat/sikap serakah itu tidak bisa dibuktikan. Karena semuanya seolah sudah sesuai dengan aturan. Sementara mereka yang menjadi ‘korban’ keserakahan hanya melawan dalam diam. Yang ada hanya cerita dari mulut ke mulut, nggerundel informal di kala ngerumpi siang hari.
Andainya para ‘korban’ itu berani bersama mengambil tindakan,mungkin aka nada perubahan. Sayangnya sampai sekarang belum tumbuh keberanian. Masih terlena di zona nyaman dalam ketidak adilan, sehingga lupa arti kebersamaan, kalah oleh kepentingan.
Semoga keserakahan akut itu tidak melanda semua Pamong Belajar di mana saja. semoga pula narasi di atas itu sifatnya kasuistik fragmentatif dan lokalan. Tidak mencerminkan Pamong Belajar pada umumnya. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk generasi Pamong Belajar jaman now.
Sesungguhnyalah, penulis juga termasuk di dalamnya. Sebagai manusia lumrah dengan berbagai kelebihan dan berbagai kelemahan yang di anugerahkan Sang Pencipta, termasuk sifat serakah. Ya, dengan sifat itu kita tidak akan pernah merasa puas atas apa yang telah kita miliki sekarang. Keserakahan itu tidak akan pernah hilang , kecuali kematian yang bisa menghilangkan. Salam literasi, untuk menginspirasi. [eBas/jumat wage-4/5]Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *