Home / Berita / PKBM SEBAGAI AGEN MITIGASI BENCANA

PKBM SEBAGAI AGEN MITIGASI BENCANA

Dari berbagai peristiwa bencana banjir dan longsor, paling banyak menimpa warga yang berdomisili di daerah pinggiran. Baik itu warga yang diam di pinggiran hutan, lereng gunung, maupun mereka yang terpaksa menggunakan bantaran sungai untuk tempat tinggal. Mereka menjadi orang pertama yang terkena bencana.
Penyebabnya pun sebenarnya sudah diketahui. Seperti penggundulan lereng gunung, alih fungsi pemanfaatan hutan dan gunung untuk pertanian, perkebunan ataupun untuk pemukiman baru. Juga adanya penyempitan luasan sungai dan sedimentasi karena warga menjadikan sungai sebagai tempat sampah umum.
Mereka yang berdomisili di kawasan rawan bencana itu, kebanyakan pendidikannya rendah dan menjadi sasaran program PKBM. Baik itu program kesetaraan maupun keaksaraan. Kiranya merekalah yang perlu segera diperkenalkan dengan konsep mitigasi bencana. Sehingga, ketika ada bencana yang melanda daerahnya, mereka sudah siap menghadapinya.
Pertanyaannya kemudian, bisakah PKBM yang merupakan satuan pendidikan nonformal, berperan sebagai agen untuk memberikan pencerahan masalah mitigasi bencana kepada kelompok sasarannya ?. mengingat informasi tentang masalah ini masih sangat minim.
Sementara, fakta menunjukkan bahwa pendidikan formal dan sistem persekolahan ternyata tidak cukup untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat (termasuk masalah bencana). Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, juga rendahnya pengetahuan tentang bencana. Disisi lain, masih tingginya tingkat buta aksara bagi orang dewasa, pengangguran, serta tingginya tingkat kemiskinan dan kebodohan.
Jika saat ini pemerintah menghimbau agar satuan pendidikan menyisipkan materi pendidikan karakter dalam pembelajarannya, maka masalah mitigasi bencana hendaknya bisa juga disisipkan dalam proses belajar mengajarnya, mengingat informasi bencana merupakan kebutuhan masyarakat yang juga harus dilayani oleh PKBM . Ini penting, karena masyarakat setempat merupakan penerima dampak langsung dari bencana, dan sekaligus sebagai pelaku pertama yang langsung merespon sebelum pihak lain datang.
Bagaimanapun bencana alam tidak dapat dihindari keberadaannya. Hal yang dapat dilakukan adalah meminimalisir dampak atau risiko kalau bencana terjadi. Maka masyarakat perlu dibekali pengetahuan tentang mitigasi bencana agar masyarakat menjadi Tangguh, yaitu yang mampu mengantisipasi dan meminimalisir kekuatan yang merusak, melalui adaptasi.
Mereka juga mampu mengelola struktur dan fungsi dasar tertentu ketika terjadi bencana. Jika terkena dampak bencana, mereka akan dengan cepat bisa membangun kehidupannya menjadi normal kembali atau paling tidak dapat dengan cepat memulihkan diri secara mandiri.
Mitigasi merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi resiko dari bencana. Mitigasi bencana dilakukan secara struktural dan non struktural. Secara struktural yaitu dengan melakukan upaya teknis, baik secara alami maupun buatan mengenai sarana dan prasarana mitigasi.
Secara non struktural adalah upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi struktural maupun upaya lainnya. Nah untuk mitigasi non struktural, kiranya tutor bisa melakukan.
Misalnya, mengadakan penyuluhan akan adanya potensi bencana di daerahnya, penyuluhan kepada masyarakat untuk membangun budaya sadar bencana, mengadakan penghijauan, kerja bakti membersihkan sungai dan saluran air dari sumbatan sampah, membuat tanda peringatan di daerah rawan bencana, membuat petunjuk jalur evakuasi.
Jika PKBM secara berkala bisa mengadakan kegiatan penyuluhan kepada peserta didik dan masyarakat terkait dengan masalah mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Sungguh PKBM layak menyandang sebagai agen perubahan menuju masyarakat sadar bencana, dampaknya akan terwujud desa tangguh bencana.
Dalam Peraturan Kepala BNPB nomor 1 tahun 2012 dikatakan bahwa Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah sebuah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana. Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pascabencana.
Dalam Desa tangguh bencana, masyarakat terlibat aktif dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko-risiko bencana yang ada di wilayah mereka, terutama dengan memanfaatkan sumber daya lokal demi menjamin keberkelanjutan. Wallahu ‘alam bishowab. [eBas/siang mendung rabu paing]Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *