Home / Berita / PNF DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

PNF DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Konon, seorang pakar pendidikan yang bernama Russel Kleis, dalam bukunya Non-formal Education mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis. Biasanya pendidikan ini berbeda dengan pendidikan tradisional terutama yang menyangkut waktu, materi, isi dan media. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan dengan sukarela dan selektif sesuai dengan keinginan serta kebutuhan peserta didik yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh.
Ada pula yang mendifinisikan pendidikan nonformal (PNF) adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontinyu di luar sistem persekolahan, melalui hubungan sosial untuk membimbing individu, kelompok dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial (yang efektif) guna meningkatkan taraf hidup dibidang materil, sosial dan mental dalam rangka usaha mewujudkan kesejahteraan sosial. Hamojoyo (1973:vii):
Sementara, secara luas Coombs (1973:11) memberikan rumusan tentang PNF adalah: setiap kegiatan pendidikan yang terorganisasi, diselenggarakan di luar pendidikan persekolahan, diselenggarakan secara tersendiri atau merupakan bagian penting dari suatu kegiatan yang lebih luas dengan maksud memberikan layanan khusus kepada warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar.
Dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dikatakan bahwa PNF adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. PNF meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Masih menurut UU Sisdiknas, hasil PNF dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Dari aneka difinisi di atas itu, bolehlah dikatakan bahwa upaya memberdayakan masyarakat itu bisa melalui pendidikan nonformal. Ini sangat relevan dengan jaman milenial saat ini. Dimana masyarakat, khususnya generasi jaman now harus segera dipacu berakrab-akrab dengan segala fasilitas internet untuk tujuan yang positif dalam rangka memberdayakan dirinya sendiri secara mandiri.
Konon, dalam sebuah seminar tentang program paud dan dikmas di era revolusi industry 4.0, sangat tergantung dan didukung oleh kemajuan teknologi informasi dengan berbagai dampak yang mengikutinya. Termasuk adanya kemungkinan beberapa jenis pekerjaan akan langka, digantikan oleh robot (komputerisasi).
Untuk itulah PNF harus adaptif menyesuaikan dengan kondisi kekinian yang tentu tidak harus diseragamkan, sesuai dengan kebutuhan setempat. Disamping itu para pegiat PNF pun harus segera mensosialisasikan kepada masyarakat yang menjadi sasaran programnya, tentang konsep revolusi industri 4.0, sehingga mereka bisa segera “bangkit” menyesuaikan dengan perkembangan jaman.
Artinya disini, peserta program PNF harus diberi materi yang dapat menumbuhkan jiwa wirausaha, kreativitas, dan kemandirian. Pendidik pun juga bisa menggunakan metode dialogis partisipatoris seperti iklannya produk minuman yang terkenal dari negeri paman Sam, belajar itu bisa dimana saja, belajar apa saja, dengan siapa saja, dan kapan saja, mungkin belajar dengan menggunakan modul, cocok dengan era ini.
PKBM pun sebagai salah satu satuan pendidikan, tidak berdosa jika dalam kegiatannya juga menciptakan usaha ekonomi produktif dengan memanfaatkan sasaran didiknya sebagai karyawan atau pun sebagai pelanggannya (dalam konteks belajar bertransaksi), termasuk mengenalkan konsep bisnis berbasis online.
Tidak mudah memang, tapi tampaknya harus segera dimulai, apapun jadinya, agar tidak masyarakat semakin berdaya dan tidak ditinggal oleh revolusi industri 4.0. Yang jelas, faktor budaya, dan kondisi sosial ekonomi sasaran didik sangat berpengaruh. Tinggal bagaimana para pegiat PNF sepakat ‘memaksa’ sasaran didiknya untuk berubah menyesuaikan jamannya agar tidak tertinggal. Salam Literasi, terus menginspirasi. [eBas/Jumat pahing]
Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *