Home / Berita / PROFESI ASESOR AKREDITASI PNF PENUH REJEKI DAN GENGSI

PROFESI ASESOR AKREDITASI PNF PENUH REJEKI DAN GENGSI

“Selamat kepada pamong belajar yang telah berhasil lolos mengikuti seleksi asesor PNF 2018. Semoga sukses dan barokah, serta bisa membagi waktunya dengan tugas pokoknya sebagai pamong belajar,” begitulah ucapan bahagia yang disampaikan kepada pamong belajar yang diterima menjadi asesor akreditasi PNF, baik bidang paud, pkbm, maupun kursus (lkp).
Dalam blognya Rani Anggita’s, dikatakan bahwa asesor akreditasi PNF adalah seseorang yang mempunyai kualifikasi yang relevan dan kompeten untuk melaksanakan penilaian kelayakan program dalam satuan Pendidikan Nonformal.
Asesor bisa berasal dari PNS/ASN maupun swasta. Yang penting bisa memenuhi syarat yang ditentukan. Hanya mereka yang pandai dan cerdiklah yang bisa menjadi asesor. Apalagi jika didukung moralitas dan integritas anti korupsi.
Dengan menjadi asesor, tentulah sebuah kebanggaan sendiri (dan keluarga, tentunya). Karena rejekinya semakin banyak. Semakin terbuka untuk membuat ‘jejaring’ dengan lembaga mitra yang menjadi ‘sasaran’ nya. Lembaga mitra pun bisa dikondisikan untuk diajak berkolaborasi memperbanyak rejeki dengan membuat kegiatan yang beraroma berbagi informasi.
Ya, kesempatan itu memang terbuka sekali. Paling tidak, dengan menjadi asesor, lembaga mitra akan terkesima dengan bualannya untuk kemudian menjadikannya sebagai konsultan dan menjadi langganan sebagai nara sumber jika lembaga mitra mengadakan diklat tentang permasalahan PNF. Hal ini sebagai wujud simbiosa mutualisma.
Soal mutu, bisa dinegoisasikan untuk mencapai kesepahaman saat proses peng-asesor-an. Ya, rumor semacam ini kadang masih muncul ketika prosesi akreditasi itu terpaksa dilakukan dalam rangka memenuhi kuota dan pemenuhan daya serap anggaran. Sehingga, masih kata issue yang pernah beredar, lembaga mitra yang sebenarnya belum siap di-aseror-i, dipaksa siap dinilai asesor. Istilahnya, “kucing-kucing di dandani biar tampak sepenti macan,” untuk kemudian sim salabim, adakadabra, nilai akreditasinya.
Biasanya, lembaga mitra yang ‘diberi’ nilai B, akan tahu diri untuk segera “berterima kasih”.Hal yang lumrah, sudah menjadi tradisi diantara “dokter dan pasien”.
Ya, bisa jadi, ditangan asesorlah bermutu tidaknya lembaga mitra yang menyelenggarakan program PNF, mencetak lulusan yang kompeten di bidangnya.
Sudah dapat dipastikan jika asesor yang datang dari unsur pamong belajar, sangat bisa diandalkan dalam soal penjaminan mutu program. Karena mereka sedikit banyak sudah memiliki dasar kompetensi yang meliputi keterampilan dan pengetahuan tentang akreditasi serta atribut asesor, yaitu diplomatis, sopan, berdisiplin diri, jujur, sabar, penuh perhatian, gemar bertanya, pandai menjelaskan, berpikiran terbuka, analitis, rajin, tidak mudah dipengaruhi, rajin mencatat, cermat menyimpan catatan, mampu mendengarkan orang lain dan profesional.
Selain memahami mekanisme pelaksanaan akreditasi, asesor juga dituntut bersikap dan berperilaku profesional dengan integritas kepribadian yang tinggi dan komitmen tinggi berdasarkan kode etik, sehingga diharapkan dapat menjadi “ujung tombak“ dalam pelaksanaan akreditasi PNF.
Sehingga ada harapan baru, ke depan lembaga mitra yang sudah terakreditasi benar-benar mumpuni dalam melaksanakan program PNF dan lulusannya pun pasti bermutu dibidangnya. Hal ini menjadi modal untuk bersaing memperebutkan pekerjaan “di pasar global”. Karena, mau tidak mau, siap tidak siap, di era milenial ini persaingan ketat menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Oleh karena itulah, sudah waktunya lembaga mitra distandarkan agar sama dan seragam mutunya dengan mengacu kepada 8 standar nasional pendidikan yang meliputi, standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pembiayaan pendidikan, standar sarpras, standar pengelolaan, serta standar pendidik dan tenaga kependidikan.
Sekali lagi selamat kepada pamong belajar yang resmi menyandang profesi asesor akreditasi. Tentulah harapannya semoga lancar dalam melaksanakan tugas ke-asesor-an yang membutuhkan stamina ekstra karena harus melaksanakan perjalanan dari satu mitra ke mitra yang lain diberbagai wilayah Indonesia.
Jangan lupa membawa tas besar untuk menyimpan pemberian akik, batik, dan keripik sebagai tanda mata dari lembaga mitra yang bersikap baik, karena menginginkan nila yang terbaik. Jangan lupa pula memberikan infaq seperti yang disepakati bersama agar tidak dibilang munafik. Salam Literasi, saling menginspirasi. [eBas/kamis pon]
Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *