Home / Berita / RAKERNAS IPABI 2018 TAPI TERBATAS

RAKERNAS IPABI 2018 TAPI TERBATAS

Bapak Ibu, mohon doa restu, bahwa besuk tanggal 2-3 Maret 2018 akan dilaksanakan Rakernas untuk mengisi kekosongan pengurus Pergantian Antar Waktu 2018-2020. Mohon maaf jika karena keterbatasan finansial dan urgensi kelengkapan struktur organisasi, kami tidak bisa mengundang seluruh Pengda.
Semoga keterbatasan ini bisa dimaklumi sebagai keterbatasan organisasi. Untuk kemudian, mohon mempersiapkan diri untuk menghadapi Munas 2020 karena kemungkinan besar akan dilaksanakan dengan swadaya Pengda dan Subsidi Pengpus.Terimakasih. Salam Satu Hati.
Demikian postingan mBak Yetti Pu, terkait dengan rencana rapat kerja nasional tapi dihadiri terbatas, hanya orang-orang tertentu karena keterbatasan financial dan urgensinya. Mungkin yang benar adalah rakertas (rapat kerja terbatas).
Untuk mengatasi keterbatasan, Abah Mosya Al Bandungi mengusulkan untuk memanfaatkan media ini (GWA, red) memaksimalkan partisipasi daerah dalam rakernas tersebut. Pastikan daerah ‘hadir’ via media ini. Artinya, apapun jenis suara yang dilontarkan dari daerah itu merupakan ekspresi yang perlu didengar.
Jika pun ada kata dan kalimat yang dianggap kurang santun di komunitas pamong belajar, anggap itu cerminan intelektualitasnya yang kurang bisa menyusun kata santun. Tangkaplah esensinya, jika tidak berkenan kesampingkan saja. Janganlah langsung dicap sebagai pecundang, apalagi bajingan yang harus segera di delcon (delete contact). Sungguh, belajar bersuara itu sulit, maka biarkanlah, jangan diberangus.
Contohnya, seperti komennya Abah Idak yang mengatakan bahwa menjelang kegiatan Rakernas Ipabi, yang dibutuhkan masukan yang positif seperti ini. Bukan sebaliknya malah provokatif yang sejatinya akan merugikan kita sendiri.
Sebuah komen yang tampaknya himbauan yang bijak, namun sejatinya sebuah peringatan halus agar tidak usah bersuara, semua diserahkan saja kepada selera peserta rakernas yang telah ditunjuk. Seolah-olah peserta rakernas itu pamong belajar paling top, paling menguasai masalah serta tau nasib dan karier masa depan pamong belajar yang semakin berkurang karena mutasi dan mati.
Agus Sadid, sang vokalis dari Sumbawa, dalam guyonannya mengatakan bahwa, dalam mimpinya, dan ditambah hasil perenungannya (sebagai orang waras) dikatakan calon kuat ketua umum adalah pamong belajar dari wilayah jawa. Sadid pun berharap yang terpilih menjadi nahkoda nanti tetap sebagai bagian dari sejarah yang bisa menjaga marwah organisasi.
Akhirnya, selamat ber Rakertas dengan ‘fasilitas’yang terbatas, namun cukup pantas. Semoga menghasilkan sesuatu yang bisa menggairahkan anggota dalam berkontribusi membesarkan organisasi. Ingat kata mBak Yetti Pu, Jangan takut pada perubahan, karena sumua yang akan dan sedang terjadi merupakan bagian dari perubahan itu sendiri.
Yang penting, pengurus baru nanti harus bisa membuat program mandiri untuk meningkatkan kompetensi pamong belajar serta mampu mendorong pamong belajar dibergaia daerah untuk berani bersuara lewat grup WhatsApp Aspirasi PB Indonesia, agar tidak diam saja, asyik sendiri mencari uang dengan berbagai cara. Salam Satu Jiwa, Salam Literasi. [eBas/rabu wage, 28/2, saat gerimis siang di kantor].
Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *