Home / Berita / RAKERNAS IPABI, YANG TUA YANG BERJAYA

RAKERNAS IPABI, YANG TUA YANG BERJAYA

Nah lho, ternyata ketua ipabi tetap dipegang oleh generasi old. Tetap diminati oleh orang tua yang sebentar lagi purna. Hal ini seperti yang disinyalir oleh Kang Bais, bahwa ipabi hanya dihuni oleh pinisepuh dengan status quonya menikmati panggilan rapat rutin dari pusat. Sehingga yang terjadi ipabi hanya punya semangat tutur saja, alias omdo.
Sementara pamong belajar generasi now tidak meminati karena (mungkin) idealismenya sudah berganti. Pikiranya sudah dibelenggu materialisme duniawi. Disana berlaku, jika bekerja harus ada uang. Kesempatan yang datang harus segera dimakan, yang penting uang. Padahal didalam bermasyarakat uang tidaklah harus menjadi yang terdepan.
Ya, generasi now itu tampaknya lebih mengejar point dan coin dari pada sekedar berkontribusi membesarkan ipabi. Sehingga sampai sekarang ipabi keberadaannya sekedar ada dari pada tidak ada sama sekali, sekedar asesoris untuk memenuhi kuota.
Buktinya yang tua tetap Berjaya. Padahal disana banyak generasi now yang punya potensi, walau kadang tampak nakal bernyali. Atas kehendak sejarah, si Abah Idak terpilih menjadi nahkoda ipabi menggantikan Abang Bagja dengan segala kelebihannya. Termasuk kelebihan berat badannya.
Ucapan selamat pun datang bertubi-tubi kepada Idak Sudaksi. Bahkan si Toni berharap kepada Tuhan, agar pengurus ipabi hasil munaslub ini dapat menjalankan amanah (bukan sekedar aman ah) dengan baik dari sekitar 3000 an pamong belajar se Indonesia yang nasib kariernya tidak seragam. Untuk kemudian dapat mempertanggung jawabkannya nanti di acara yaumil akhir.
Pertanyaan nakal yang muncul kemudian adalah, bisakah rezimnya Idak membuat gebrakan baru yang bisa dirasakan oleh pamong belajar yang mayoritas masih phobi terhadap ipabi ?. Biarlah pertanyaan itu tidak untuk dijawab, tapi untuk menginspirasi rencana program yang akan disusun oleh rezim baru.
Si Ginting mengingatkan bahwa ipabi itu sebuah organisasi yang punya AD dan ART sebagai wadah menyampaikan aspirasi anggotanya untuk menyelesaikan masalah. Sehingga ipabi harus mempunyai program nyata yang bermanfaat bagi anggotanya. Bukan omong belaka. Yang penting harus transparan.
Akhirnya Abah Mosya yang bijaksana itu mengajak untuk mensikapi terpilihnya Kang Idak dengan bijak. Wajar jika rakernas (munaslub ?) tidak dapat memuaskan semua anggota ipabi. Untuk itu, masih menurut pamong ganteng dari Jayagiri, langkah terbaik adalah menerima keberadaan rezim baru dengan memberi masukan dan penguatan. Agar kita semua menjadi bagian sejarah dari perjalanan ipabi.
Konon, Abah Idak juga harus mengendalikan agenda besar untuk menyiapkan balon ketum 2020 – 2024. Dimana saat itu harus muncul generasi now yang memegang tongkat komando ipabi, dan diharapkan para pinisepuh yang sampai saat ini masih bernafsu bercokol dikepengurusan harus legowo, menyerahkan nasib ipabi kepada yuniornya. Untuk itulah sejak saat ini penjaringan balon ketum harus mulai diwacanakan di masing-masing pengda.
Namun, rasa pesimis itu masih ada. Ipabi ditangan Idak Sudaksi dan kawan-kawannya tidak akan bisa berbuat apa-apa karena tidak punya semangat berorganisasi, serta dana operasi. Apalagi pengurus satu sama lain berjauhan domisilinya, sehingga untuk rapat bersemuka saja harus nunggu ada tidaknya kegiatan direktorat yang bisa didomplengi. Sementara untuk berkomunikasi tidak langsung menggunakan kecanggihan teknologi, kayaknya mustahil, karna itu bukan budaya pamong belajar.
Jadi ?… ya wait and see sajalah menunggu gayanya Idak Cs dalam memainkan ipabi dengan pola serangan 4-4-2 atau 4-3-3. Atau pola gajah ngamuk. Monggo kerso. Selamat berkarya kawan, doa kami di nadimu. [eBas/sabtu pahing (3/3)]Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *