Home / Berita / REMBUG PENDIDIKAN NASIONAL

REMBUG PENDIDIKAN NASIONAL

Konon, ritual rembug pendidikan itu ajangnya para pakar, pejabat dan penguasa pendidikan untuk bersemuka, temu kangen dan bertukar cerita tentang pelaksanaan program pendidikan yang beranggaran besar dengan berbagai kekurangan dan kecurangan yang terjadi di seputar dunia pendidikan.
Disamping sebagai arena kangen-kangenan, bisa jadi menjadi tempat saling berbagi strategi untuk melanggengkan kuasa dan jumlah anggaran. Mungkin juga menjadi tempat untuk mencermati aneka kritik tentang pendidikan yang bertebaran di media massa, yang disampaikan oleh pengamat dan pemerhati pendidikan.
Rembug kali ini mengambil tema, “Menguatkan pendidikan, memajukan kebudayaan”. Hal ini sebagai upaya menyinergitaskan langkah pemerintah pusat dan daerah serta komunitas pendidikan untuk bersama-sama membangun manusia Indonesia melalui komunikasi dua arah yang saling mendukung. Hal ini sejalan dengan keberadaan kemdikbud sebagai instansi yang menjadi pusat peradaban dan sumber peradaban.
Semoga di ajang yang terhormat itu, permasalahan dunia pendidikan menjadi bahasan yang benar-benar menyodorkan solusi tanpa basa basi. Sungguh banyak pekerjaan rumah yang terkait dengan upaya peningkatan mutu agar tidak tertinggal dari Negara tetangga.
Tapi apa daya, persoalan karakter itu masih amboradul. Mulai dari kepala dinas pendidikan dan kepala sekolah yang terkena OTT, penyimpangan diakrenakan dana BOS, dan tindak culas kelas pejabat, masih sering terjadi.
Kemudian, kasus guru dibunuh murid, guru dianiaya wali murid, guru melakukan pelecehan seksual terhadap murid. Ada juga murid melakukan tindak criminal, murid perempuan terlibat seks bebas, pelacuran online dan hamil diluar nikah, kini semakin marak dan lumrah terjadi di sekolah, adalah bukti bahwa pendidikan karakter masih jauh panggang dari api.
Belum lagi persoalan pendidikan nonformal yang belum banyak beranjak dari yang diangankan oleh para pakar dan praktisi yang suka rapat menyusun juklak juknis yang beranggaran fantastis namun hasilnya masih agak miris.
Persoalan yang tidak pernah terselesaikan diantaranya, semakin habisnya profesi pamong belajar karena mati ataupun mutasi. Sementara untuk pengadaan pamong belajar baru belum ada kabar yang menggembirakan, bahkan di beberapa daerah nasib SKB yang sudah bersusah payah berubah menjadi satuan pendidikan pun masih terlunta menyedihkan.
Belum lagi masalah jual beli ijasah kesetaraan yang masih terjadi, hasil kerja asesor yang masih diwarnai subyektivitas dan jual beli borang, dan ritual rebutan dana blokgren dan bansos yang masih jauh dari azas pemerataan yang berkeadilan. Karena kedekatan dan pendekatan, maka ada sebagian satuan pendidikan yang selalu menerima berkah blokgren dan bansos. Itulah sebagian wajah bopeng dunia nonformal.
Namun sayang, tampaknya, bahasan dalam rembug nasional tahun 2018 itu lebih mengarah kepada upaya pemerintah melakukan percepatan penyediaan guru produktif dan peningkatan profesionalisme pendidik (sekolah formal), Kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi, Membangun pendidikan dari pinggiran, serta Penguatan pendidikan karakter. Sementara nasib pamong belajar pada satuan pendidikan sanggar kegiatan belajar tidak menjadi hal yang seksi yang pantas dimasukkan dalam rekomendasi.
Kini gelaran rembug nasional sudah usai, masing-masing penikmatnya sudah pulang dengan membawa segepok nikmat yang bisa dinikmati keluarga. Sedangkan permasalahan pamong belajar beserta program dan lembaganya dibiarkan menjalani takdirnya untuk tetap terlunta lunta dalam ketidak pastian. Wallahu ‘alam bishowab.[eBas/gebangputih10/suroboyo]Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *