Home / Berita / RESEPSI PERNIKAHAN SEBAGAI AJANG REUNI

RESEPSI PERNIKAHAN SEBAGAI AJANG REUNI

Salah satu tugas orang tua adalah menikahkan anak-anaknya untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera serta melahirkan generasi penerus sehat jiwa raga. Dalam Wikipedia, pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.
Sementara itu, pesta pernikahan merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga, sebagai tanda turut bersukaria.
Begitulah dengan keluarga Srini Sudarmami, alumni SMA Negri Kepanjen, angkatan tahun 1982. Setelah membina rumah tangganya, kini saatnya dia melepaskan anaknya untuk berumah tangga, menjadi anggota masyarakat dengan berbagai aturan dan norma yang berlaku di lingkungannya.
Ya, Srini, sebagai orang tua sudah sukses menghantarkan anak-anaknya melangkah untuk melanjutkan keturunannya sebagai khalifah di bumi ini dan siap menjadi nenek bagi cucu-cucunya. Sementara teman seangkatannya, salah satunya penulis sendiri, masih belum diijinkan Tuhan untuk menikahkan anak keturunannya.
Di Balai Kartika Surabaya, gedung milik KODAM V Brawijaya, Srini dan keluarga menggelar pesta perkawinan anaknya. Yang hadir banyak. Sungguh, banyak sekali yang datang menghadiri, tanda kolega dan keluarganya banyak sekali dari kedua belah pihak.
Tak lupa Srini pun mengundang ‘Bolo Kurowo’, alumni SMAKEP’82. Namanya saja konco lawas saling bertemu, maka wajar jika acara resepsi yang penuh gebyar keindahan itu berubah jadi heboh dengan kelakuan yang lucu-lucu (mungkin sekaligus mengenang pertemanan masa lalu, suka duka yang mewarnai sejarah hidup).
Grudak-gruduk ngincipi menu makanan yang tidak setiap hari ditemui, bersama menikmati ragam hidangan, diantaranya lontong kikil, dan es puter (jare mbak Titik, Es grim). Ngobrol sana sini sambil terus mulutnya nggiling sajian istimewa. Kemudian saling bergantian selfie, berswa foto dengan android masing-masing untuk di posting di grup whatsapp. Termasuk memaksa Srini dan suaminya berfoto bersama mempelai dengan ‘bolo kurowo’. Semoga mantennya tidak kaget oleh kelakuan remaja jaman old.
Ternyata, acara mantenan itu bisa dimanfaatkan untuk ‘reuni tipis-tipis’ bila semua alumni merasa masih punya ikatan batin yang kuat yang dibangun lewat kegiatan arisan, anjang sana dan ngopi bersama. Mungkin, itulah yang disebut Seduluran Sak Lawase. Terimakasih mbak Srini, gelas pemberian sampiyan tadi malam, hari ini saya isi jus jambu untuk menjamu tamuku agar sehat selalu. Semoga kita masih ada waktu untuk bertemu dengan penuh rindu. [eBas/minggu legi]
Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *