Home / Artikel / Rutin Ngawi-Surabaya PP demi SRPB Jatim

Rutin Ngawi-Surabaya PP demi SRPB Jatim

Rutin Ngawi-Surabaya PP demi SRPB Jatim

*SIDOARJO, SRPB.WEB.ID* – Bagi seorang relawan sejati, jarak berapa pun akan ditempuh. Hambatan akan dilewati demi suatu tujuan mulia. Barang kali itulah yang dialami oleh Sri Susilowati. Mbak Sri, demikian ia kerap dipanggil, harus menempuh jarak sekitar 220 km. Itu sekali jalan.
Dari Ngawi ia kerap berangkat pagi, sebelum Subuh. Sesampai di Stasiun Gubeng, Surabaya, ia harus berpindah angkutan atau ojek online untuk menuju Joglo Kadiren, Posko Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur. Tempat ini berada di Perum Permata Juanda, Sidoarjo.


Di tempat ini pula berbagai pelatihan digelar. Salah satunya yang menjadi agenda rutin adalah Arisan Ilmu Nol Rupiah. Ya, di tempat ini berbagai pemateri alias narasumber bergantian menyumbangkan ilmunya tanpa bayaran alias gratis.
Tak sekali Mbak Sri Ngawi-Surabaya pulang pergi (PP) untuk mengikuti acara ini. Sudah belasan atau puluhan kali ia menempuh jarak ini untuk ikut berbagi ilmu. Atau sekadar membantu kegiatan SRPB Jatim.
Tugasnya memang lebih banyak di ‘seksi logistik’. Perempuan yang menjadi anggota SAR Sikatan, Ngawi ini, berada di garda terdepan jika ada kegiatan SRPB Jatim. Tugasnya adalah menyambut peserta pelatihan dan mengabsennya dengan buku absensi yang sudah tersedia.
Ada lagi tugas yang tak kalah beratnya. Usai mengabsensi peserta, ia menyiapkan perbekalan konsumsi. Dari kacang tanah, roti, pisang, teh, kopi, hingga makan siang dengan menu lengkap nan enak.
Minggu, 27 Januari 2018, tugas rutin Mbak Sri menanti. Di WhatsApp Group (WAG) SRPB Jatim, pagi-pagi, sekitar pukul 06.00 WIB, wajahnya sudah muncul. Dengan jilbab ungu, ia sudah stand-by di depan Joglo Kadiren. Dia sudah bersiap tatkala peserta atau anggota SRPB Jatim belum berada di lokasi.
Sejam kemudian, WAG kembali berbunyi. Muncul lagi foto Mbak Sri dengan beberapa orang yang sudah datang ke lokasi. Mereka akan ikut Arisan Ilmu Nol Rupiah ke-19.
“Menunggu pasukan wedi luwe (takut lapar, red),” demikian teks WA dari Mbak Sri.
Mungkin maksudnya adalah Mbak Sri ikut menemani anggota SRPB Jatim yang datang duluan di pagi itu. Mereka bisa jadi belum sarapan namun punya semangat datang lebih pagi meski dalam kondisi luwe (lapar, karena belum sarapan)
Setiap ada kegiatan SRPB Jatim, Mbak Sri selalu menyempatkan hadir. Kereta api menjadi andalannya dari Ngawi ke Surabaya. Kadang pakai bus.
“Saya menyesuaikan waktu dan keuangan karena semua dari biaya sendiri. Anggap saja belajar sambil piknik tipis-tipis,” tukasnya.
Sebagai relawan bencana, ia sadar semuanya harus ditanggung sendiri. Ini semua demi menimba ilmu untuk meningkatkan kapasitasnya.
Kehadiran Mbak Sri sangat berarti bagi SRPB Jatim. Sehari-hari, perempuan ini juga punya kegiatan tambahan: momong cucu. Ia juga harus memonitor aktivitas SAR Sikatan, komunitas relawan bencana yang cukup punya nama di Ngawi. Keberadaan Mbak Sri tak bisa dianggap sebelah mata.(rys)

About ahas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *