Home / Berita / Sekedar Lamunan Jum’at Legi Tentang Itu-itu Saja

Sekedar Lamunan Jum’at Legi Tentang Itu-itu Saja

SEKEDAR LAMUNAN JUMAT LEGI TENTANG ITU-ITU SAJA

SRPB.WEB.ID – Hari ini, jumat (6/3) legi, saya mengikuti kegiatan supervisi ke satuan pendidikan non formal yang ada di wilayah Madiun. Tempatnya di SD Nglames 1 Kabupaten Madiun. Sambil menunggu selesainya proses supervisi, lamunanku berlari ke Warung Ayam Goreng Pak Dhe, di seputaran Pepelegi, Sidoarjo. Tempat yang dipilih teman-temannya mBak Dian Harmuningsih melakukan evaluasi dan makan bareng.

Terbayang jelas, Ning Puspita bahagia ngremusi es batu, Pak dhe Kopros asyik mengabadikan wajah-wajah panitia yang sukses mengemas gelaran kongres. Juga ada Pak Alis, Koko Leo, Mas Probo, Cak nDaru yang penuh keyakinan ngemil tahu goreng dan jamur krispi.

Mbak Azelin, dengan penuh semangat membuka rapat evaluasi. Metani apa saja yang berhasil dilaksanakan dan bagian mana yang memerlukan perhatian dan dijadikan bahan pembelajaran di kemudian hari. Semua unsur panitia secara bergantian menyampaikan apa saja yang dikerjakan dan saran untuk bahan perbaikan.

Sebagai bentuk pembelajaran, diharapkan semua kegiatan masing-masing anggota panitia dilaporkan untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan sejenis. Ini penting sebagai upaya kaderisasi di bidang manajemen organisasi. Tak kalah pentingnya, emaknya Falain segera melakukan konsolidasi untuk memetakan calon pengurus sekaligus merancang kegiatan Arisan Ilmu yang sudah menjadi ikon SRPB JATIM. “segera move on gaes”, istilahnya anak milenial.

Untuk calon pengurus, sebaiknya juga memperhatikan beberapa masukan yang sempat muncul di Hotel New Grand Park Surabaya. Seperti adanya anggapan SRPB hanya di dominasi orang yang itu-itu saja, yang tampil ya itu-itu saja, dan kegiatannya juga hanya itu-itu saja yang lebih banyak seremonialnya, serta anggapan bahwa SRPB adalah organisasi di dalam organisasi.

Sambil tetap menunggu selesainya peserta mengisi instrument yang dibagikan, ada rasa sedih yang menyeruak di dada. Karena mereka yang memberi masukan itu adalah orang baru yang belum pernah berkegiatan bareng melaksanakan program SRPB. Sehingga perlu dimaklumi saja. Bagaimana tidak hanya orang itu-itu saja yang aktif di SRPB, karena memang kenyataannya yang aktif ya hanya itu-itu saja. sementara yang lainnya sibuk dengan rutinitas hidupnya, dan itu semua maklum. Apalagi saat kelar Kongres II kemarin ada salah satu peninjau yang serius nanya, “Emangnya pengurus SRPB dibayar atau digaji?”  Dengan tegas, rekan pengurus yang demisioner, menjawab, ” Oh, tentu tidak ada bayaran “.  Melongolah si penanya.   Jadi, apa ya salah jika yang aktif hanya itu-itu saja ?

Yang jelas pekerjaan pengurus baru sudah ditunggu. Baik oleh BPBD maupun oleh berbagai organisasi mitra dan para pemerhati SRPB yang sangat kritis dan jeli mencari kesalahan tanpa solusi pemecahan kesalahan.

Kemarin, mas Wawan, sambil nyruput kopi usul ke depan harus ada yang mengurusi usaha yang memberdayakan anggota dan menyehatkan Kas, dalam rangka kemandirian finansial. Sekaligus penataan Sumber Daya Manusia (human capital) untuk proses regenerasi. Terkait dengan SDM, jadi ingat cita-cita Pak Sugeng Yanu yang ingin mencetak relawan yang menguasai penyusunan renkon, jitupasna, dan sejenisnya, serta siap menjadi fasilitator dan berperan sebagai pemberi masukan yang kritis untuk bahan masukan penyusunan kebijakan BPBD.

Ups….lamunan liar itu pun harus buyar seiring peserta supervisi riuh mengumpulkan instrument sekaligus menyelesaikan administrasi. Saya pun sok sibuk melayani peserta dengan senyum manis.

Usai jumatan, saya dan tim supervisi pamit bali ke Surabaya. Sambil terkantuk-kantuk di mobil, saya mencoba menyusun lamunan yang tadi sempat ambyar, namun gagal. Hanya ada harap semoga semua aktivis yang dianggap itu-itu saja tetap istiqomah dan tabah melaksanakan program yang telah disepakati, sekaligus tetap kritis untuk saling mengkoreksi, dan membelajarkan.

“Pak Edi, kita makan dimana ? Masak pecel lagi seperti tadi pagi.” Kata mBak Dwikus, merajuk sambat lapar.

“Ayo nyoba garang asem sama sate gule di depot dekat pertigaan. Katanya enak mengenyangkan,” Jawab saya sambil mengarahkan driver.

Mugkin karena perut lapar sehingga lamunan yang indah itu ambyar dan semakin samar tertinggal di wilayah Kecamatan Nglames, Kabupaten Madiun. Semoga setelah kenyang nanti saya masih diberi kesempatan untuk melamun lagi tentang membangun kebersamaan bersama relawan yang tergabung di dalam SRPB Jawa Timur. Wallahu a’lam. [eb]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *