Home / Berita / SEKOLAH SEBAGAI MEDIA DERADIKALISASI

SEKOLAH SEBAGAI MEDIA DERADIKALISASI

Ternyata, sekolah dan kampus merupakan area yang rawan disusupi paham radikal. Dikemas lewat kegiatan keagamaan yang disajikan dengan menarik sebagai upaya menanamkan ideologi radikal kepada peserta didik yang secara psikis jiwanya masih labil, mudah dipengaruhi.
Ya, kegiatan keagamaan di sekolah itu rentan terpapar ajaran radikal. Terbukti bahwa para pelaku bom bunuh diri itu dimasa menjadi pelajar, pernah aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolahnya, biasanya juga aktif di OSIS.
Untuk itulah para pendidik yang dikomandani kepala sekolah, khususnya yang mengampu mata pelajaran agama, kewarganegaraan dan bimbingan konseling, hendaknya bisa memberikan pemahaman keagamaan yang benar kepada pelajar. Dimana, usia mereka itu secara psikologis masih labil dan sedang mencari jati diri serta nilai-nilai ideal dalam hidup keseharian.
Pendidik harus segera bertindak jika menemui peserta didiknya mulai berbuat aneh. Seperti tidak mau ikut upacara bendera, tidak mau menyanyikan lagu Indonesia raya, suka bicara bid’ah, dan dalam pembicaraannya, selalu ‘menyalahkan ‘pemerintah yang dikaitkan dengan ajaran agama.
Untuk mencegah penyebaran paham radikal, pihak sekolah, termasuk komite sekolah hendaknya bekerjasama dengan seluruh elemen masyarakat. Di samping itu pemerintah pun perlu mendorong terciptanya sistem kontrol sosial yang bisa membantu aparat. Seperti mengaktifkan kembali siskamling yang sudah semakin ditinggalkan. Ronda malam bergiliran yang dilakukan secara bergotong royong.
Agar aturan bisa benjalan, tentu harus ada regulasi yang bisa menekan. Termasuk peran babinkamtibmas harus tampak dalam tugasnya menjaga keamanan dan ketertiban, baik di kampung, di kampus maupun di lembaga sekolah. Harus ada komunikasi yang baik diantara mereka, untuk mengawasi keberadaan ormas penganut paham radikal dan menyuburkan intoleransi.
Tidak ada salahnya, dalam rangka membantu pemerintah melakukan deradikalisasi, Sekolah menjalin komunikasi dengan orang tua dan tokoh masyarakat setempat, melakukan sosialisasi akan bahaya paham radikal yang menjurus kepada munculnya gerakan terorisme.
Di sisi lain, sekolah harus bisa menciptakan menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung siswanya merasa nyaman mengikuti proses pembelajaran di sekolah, tanpa terganggu oleh paham-paham yang menyesatkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Retno Listiyarti, seorang pendidik di Jakarta, dimana didalam tulisannya mengatakan sekolah harus menjadi tempat yang strategis untuk memperkuat nasionalisme, nilai-nilai kebangsaan dan menyemai kebersamaan. (Kompas, 18/5).
Semoga para pendidik, disela-sela kesibukannya mengajar dan menyusun portofolio, masih ada waktu untuk memperhatikan tingkah laku siswanya yang ‘aneh’agar bisa segera mendapatkan ‘perlakuan’dari pihak yang berkompeten. Itu pun juga memerlukan regulasi yang menjadi payung hukum agar sekolah tidak disalahkan dalam upaya deradikalisasi kepada anak didiknya. Salam Kemanusiaan, Salam Literasi, selalu menginspirasi. [eBas/08123161763/minggu kliwon]
Artikel Asal

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *