Home / Berita / Sepenggal Catatan Relawan dari Puger

Sepenggal Catatan Relawan dari Puger

Sepenggal Catatan Relawan dari Puger

Jember, SRPB.ID- Setelah pembukaan Ekspedisi Destana Tsunami 2019 (EDT 2019) di Banyuwangi pada tanggal 12 – 13 Juli 2019, yang diikuti dengan acara penanaman pohon penghijauan, pelepasan tukik, sosialisasi tentang potensi bencana di beberapa desa yang telah ditentukan dan malam hiburan berupa pagelaran musik, ceramah dari pakar dan pemutaran film di Pantai Boom.

Selanjutnya TIM EDT 2019 dan para relawan Mitra Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim, dengan penuh semangat bergeser ke barat Kabupaten Jember, tepatnya di alun-alun Kecamatan Puger pada tanggal 14-15 Juli. Acara diawali dengan penyerahan Pataka dan penjelasan teknis oleh BNPB.

Sementara itu BPBD Kabupaten Jember menentukan 12 desa yang dijadikan objek kunjungan relawan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai potensi ancaman gempabumi dan tsunami kepada aparat dan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Berbagai komunitas relawan yang ada di seputaran Jember turut berpartisipasi mensukseskan EDT 2019. Di pandu oleh Dian Harmuningsih, Koordinator SRPB jawa Timur yang juga sebagai koordinator tim relawan untuk sosialisasi dan edukasi, mereka dibagi dalam beberapa tim kecil, dengan riang gembira bersama menyerbu Desa Paseban, Kepanjen, Mayangan, Mojomulyo, Mojosari, Puger kulon, Puger wetan, Lojejer, Sumberrejo, Sabrang. Andongrejo, dan Curahnongko. Semuanya di wilayah Kecamatan Puger.

“Disini kami Tidak hanya melakukan sosialisasi, namun juga edukasi kepada masyarakat agar mereka mengerti betapa pentingnya mitigasi sebagai upaya pengurangan risiko bencana,” Kata Vellya, dari korps relawan kampus (KORREK), Universitas Jember.

TIM relawan mitra SRPB JATIM di dampingi oleh pihak BPBD Jember, memberikan sosialisai dan edukasi kepada warga setempat. Mereka mendatangi di keramaian berkumpulnya warga,. Baik itu di warung, di rumah, di balai desa setempat. Bahkan jika memungkinkan juga di Pasar, di Sekolah, di Puskesmas, dan di tempat ibadah. Semuanya bisa digunakan untuk mensosialisasikan masalah kebencanaan.

Tanpa canggung, dan tetap dengan sopan santun, relawan bercengkrama sekaligus berdiskusi santai dengan masyarakat sekitar, bicara masalah bencana yang pernah terjadi dan bagaimana menanamkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana secara mandiri.

Salah satu desa yang dekat dengan pantai adalah Puger Wetan, masyarakat daerah tersebut kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Jarak antara rumah penduduk dengan bibir pantai sangat dekat, kurang lebih 1 Km. merekalah yang harus diedukasi tentang kesiapsiagaan dan mitigasi bencana

Banyak laporan dari warga setempat, bahwa sirine yang dulu dipasang oleh pihak BPBD hilang entah kemana. Inilah mungkin, yang menjadi salah satu pekerjaan relawan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat agar tumbuh rasa memiliki terhadap keberadaan sirine sebagai alat peringatan dini.

Sehingga masyarakat mau menjaga dan merawat sirine, tower pengamatan, rambu-rambu evakuasi dan tempat evakuasi sementara (TES) dari kerusakan. Sementara, dari pihak BPBD Jember mengatakan bahwa mereka pernah mengajak warga Puger Wetan mengadakan Simulasi Tsunami pada tahun 2016.

“Kedepan, perlu diagendakan lagi dengan melibatkan berbagai komunitas yang ada,” Ujar salah satu relawan yang ikut meramaikan kegiatan yang baru pertama kalinya diadakan oleh BNPB.

Tidak hanya orang dewasa yang menjadi sasaran sosialisasi. Mereka juga mengajak anak-anak untuk berbicara tentang bencana sambil bermain. Tujuannya agar mereka mengerti dampak yang di timbulkan oleh bencana, sekaligus bisa menyelamatkan dirinya.

Tidak lupa relawan juga mengenalkan tentang Tas Siaga Bencana yang harus dimiliki oleh setiap keluarga. Tas tersebut diantaranya berisi surat-surat penting, seperti akta kelahiran, surat tanah, kartu keluarga, barang berharga, baju, senter, alat komunikasi, makanan dan obat-obatan.

Setelah dari Desa Puger Wetan , kami beranjak ke pantai Pancer. Relawan dari Korrek Unej, Vellya Wahyu dan Annisa, mendatangi salah satu pengunjung pantai. Mereka menanyakan perihal tanda-tanda terjadinya tsunami. Dari dialog itu, kebanyakan pengunjung mengetahui tanda-tanda bahaya tsunami.

Setelah itu tim EDT 2019 memberikan sosiliasasi pertolongan pertama untuk orang kecelakaan kepada pengunjung pantai. Tempatnya di warung dekat pantai pancer. Kali ini yang memperagakan adalah teman-teman pramuka.

Di desa lain dari tim relawan dari berbagai komunitas juga memberikan sosialisasi terhadap anak-anak dan warga masyarakat untuk bersama membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian alam.

Mencari, bertemu, bercengkrama, berbagi ilmu dan mengimplementasikannya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar organisasi relawan itu sangat penting untuk menumbuhkan kesepahaman, dan memudahkan koordinasi untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam penanggulangan bencana, maupun upaya pengurangan risiko bencana.

Sungguh, menjadi seorang relawan tidaklah mudah. Karena harus belajar beradaptasi dengan sesama relawan dan lingkungan (daerah) yang baru, dengan budaya masyarakat yang berbeda.

“Disinilah kita belajar apa artinya perbedaan. kita memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang mengajarkan kita saling menghormati perbedaan yang ada. Dan relawan harus bisa,” Kata Vellya bersemangat.

Sementara, Annisa, anggota Korrek yang lain berkata, Salam dari kami untuk Indonesia, relawan ada untuk bangsa kita tercinta. Tujuan relawan sangatlah mulia untuk mendekatkan manusia dengan alam yang dimilikinya. Tetap semangat untuk menebar kebaikan untuk masyarakat. Salam Tangguh. Salam Kemanusiaan. [vellya/korrek unej]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *