Home / Berita / SRPB Berbagi Ilmu Tentang Kerelawanan

SRPB Berbagi Ilmu Tentang Kerelawanan

SRPB BERBAGI ILMU TENTANG KERELAWANAN

SRPB.WEB.ID-Konon menurut penanggalan Cina, tahun 2020 ini bershio Tikus. Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas, mengawali tahun ini, bencana banjir dan longsor di berbagai daerah telah membawa korban yang tidak sedikit. Untuk itulah, isu-isu tentang relawan penanggulangan bencana menjadi topik utama yang dibahas dalam Cangkrukan yang digelar oleh Tim Siaga Bencana balai pengembangan pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat jawa timur (BP-PAUD DIKMAS JATIM), pada hari Jumat (24/1).

Kegiatan yang pertama ini merupakan salah satu kegiatan yang akan digelar secara rutin untuk menambah wawasan staf Balai, terkait dengan kerja-kerja relawan saat melakukan operasi di lokasi kejadian bencana. Harapannya, bisa menginspirasi anggota Tim Siaga Bencana Balai untuk melakukan edukasi tentang mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana kepada lembaga mitra Balai. seperti SKB, PKBM, PAUD, dan LKP. Hal ini seperti yang tertera di dalam Permendikbud nomor 33 tahun 2019, tentang penyelenggaraan satuan pendidikan aman bencana (SPAB). di dalam salah satu pasalnya dikatakan bahwa penyelenggara SPAB itu adalah satuan pendidikan formal dan non formal.

 

Acara Cangkrukan yang menempati ruang Agus Salim ini diikuti oleh staf Balai yang peduli terhadap masalah kebencanaan, menghadirkan dua orang nara sumber. Rizal dari BTB (baznas tanggap bencana), dan Andreas dari ReSu (relawan surabaya). Mereka adalah aktivis Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana Jawa Timur (SRPB JATIM), yang sudah sering terjun langsung mengikuti kegiatan operasi tanggap darurat bencana. Andreas Eko Muljanto, yang biasa dipanggil Koko Leo, menceritakan pengalamannya tentang kegiatan penanggulangan bencana itu ada tiga fase. Yaitu fase pra bencana, fase tanggap darurat, dan fase pasca bencana. untuk itu relawan perlu memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidang yang diminati. Disisi lain, sebelum ikut beroperasi ke lokasi harus mempersiapkan diri, baik perlengkapan, logistik dan uang yang mendukung selama di lokasi. Jangan sampai terjadi relawan di evakuasi karena ketidaksiapannya. “Jangan lupa saat ke lokasi harus melapor ke posko dengan menunjukkan surat tugas. Biasanya relawan itu di lapangan paling lama tujuh hari, setelah itu balik kanan untuk istirahat, karena di lapangan itu tingkat stresnya tinggi sekali.” Katanya bersemangat. Masih kata pria berambut panjang ini, seorang relawan, ketika di lokasi diharapkan kreatif dan peka terhadap situasi di sekitarnya, serta bisa melakukan apa saja dan bekerjasama dengan relawan lain untuk membantu korban bencana di pengungsian. Sementara Rizal dari Baznas Tanggap Bencana mengatakan bahwa menjadi relawan itu lebih didasari oleh rasa peduli. Kemudian mau dan mampu melakukan kegiatan menolong sesama dengan ikhlas dan sabar menghadapi korban yang mengalami stress karena kehilangan harta benda bahkan keluarganya. Hal ini sesuai dengan definisi relawan penanggulangan bencana menurut perka BNPB nomor 17 tahun 2011, adalah seseorang atau sekelompok orang, yg memiliki kemampuan dan kepedulian untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam upaya penanggulangan bencana. “ Yang tidak kalah penting adalah, relawan harus mampu mengedukasi masyarakat yang berdomisili di daerah rawan bencana agar bisa mengenali potensi bencana di daerahnya dan mampu melakukan penyelamatan mandiri saat terjadi bencana dengantetap mengedepankan kearifan lokal yang ada. Contoh dari keberhasilan edukasi ini adalah saat terjadi erupsi gunung kelud, dimana kerugian harta benda bisa diminimalisir.” Ujarnya.

Terkait dengan keinginan staf Balai untuk melakukan kegiatan edukasi kebencanaan dengan membuat media belajar kebencanaan, seperti beberan kebencanaan, booklet, poster dan sejenisnya itu, mungkin kedepan bisa dikerjasamakan dengan programnya SRPB JATIM. Baik untuk melakukan edukasi ke komunitas, ke sekolah dan bisa digunakan saat relawan melakukan trauma healing. Sebelum mengakhiri acara Cangkrukan yang mengadopsi kegiatan arisan ilmu nol rupiah, Rizal menambahkan apa yang disampaikan oleh Andreas, bahwa ketika relawan itu akan turun ke lokasi harus memiliki kecukupan logistik. Baik logistik untuk anak istri yang ditinggal, maupun logistik saat di lokasi bencana yang digunakan dalam kondisi darurat. “Yang jelas menjadi relawan itu menyenangkan banyak teman di lapangan, kalau hanya masalah konsumsi itu biasanya tidak ada masalah. Karena antar relawan itu selalu mengedepankan rasa senasib sepenanggungan untuk bekerjasama dan saling tolong menolong di dalam segala hal. Semuanya demi rasa kemanusiaan.” Tambahnya menyudahi acara. [eB]

About SRPB Jawa Timur

Check Also

Seratus Relawan Disabilitas Ikuti Rakor Penanggulangan Bencana

Surabaya – Sekitar seratus relawan disabilitas (tunarungu) mengikuti rapat koordinasi (Rakor) penanggulangan bencana dengan tema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *